Kamis, 03 Maret 2016

Baju_Daerah_Kini_Menjadi_Baju_Resmi_Di_KEMDIKBUD

Kebayang gak sich, ngantor makai baju daerah? Itu menjadi kenyataan di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Hari ini (Selasa, 2 Februari 2016) adalah hari pertama bagi seluruh staf Kemdikbud ngantor memakai baju daerah. Modelnya bermacam-macam, tergantung dari daerah yang ingin diwakili. Ada yang pakai baju Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku, dll. Pokoknya beragam.
Pemandangan paling asyik tentunya di sekretariat Menteri. Pagi ini, mulai jam 7.30 WIB memimpin Rapat Pimpinan (Rapim) yang dihadiri oleh para eselon I dan eselon II. Suasana rapat jauh dari biasanya yang memakai pakaian formal, kali ini seluruh peserta memakai baju tradisional. Suasana rapat jadi gayeng dan penuh warna.
Gambar: Saat Rapim di Kemdikbud, semua memakai baju daerah
Ini semua berawal dari Surat Edaran Mendikbud yang dikeluarkan melaui Sekjend, bahwa pada Selasa I dan II setiap bulan seluruh staf Kemdikbud agar memakai baju daerah. 
Saya, kebetulan punya baju daerah  yang sudah bertahun-tahun dianggurkan di dalam lemari. Dianggurkan karena belum pernah ada momen yang cocok untuk memakai baju itu. Baju tersebut merupakan baju adat Nias. Itu saya peroleh saat menjadi  ketua umum PB HMI dulu (2009-2011), pernah diundang untuk melantik  HMI cabang Nias Selatan. Acara pelantikan diselenggarakan dengan sambutan adat oleh Bupati setempat. Dari acara itulah saya mendapatkan baju tersebut, karena saya harus mengenakan baju ada yang dipersembahkan untuk tamu. 
Setelah itu, saya tidak pernah memakai baju itu lagi. Tergantung begitu saja di dalam lemari. Anehnya  saya tidak pernah berniat untuk melipat baju tersebut dan menaruhnya di bagian rak yang untuk baju jarang dipakai. Baju itu saya taruh bersamaan dengan baju-baju yang keseharian aku pakai ke kantor. Jika dihitung sampai sekarang, kira-kira sudah sekitar 6 tahun-an lah. Rupanya, itu adalah sinyal atau pertanda, bahwa baju itu menunggu saat seperti sekarang ini. Saat dimana baju daerah juga menjadi baju resmi di kantor.  
Gambar: Ke kantor dengan baju Daerah Nias
Ide Mendikbud tersebut menarik. Saat Selasa semua orang kantor memakai baju daerah, tiba-tiba baju daerah yang tadinya aneh, menjadi biasa. Saya yakin, pelan-pelan ke kantor dengan mengenakan baju daerah akan menjadi populer. Lama-kelamaan orang akan terbiasa menggunakan. 
Bukankah situasi ini mirip dengan saat sebelum baju batik menjadi baju resmi kantor seperti sekarang ini? Dulu memakai baju batik ke kantor adalah hal yang aneh. Tapi siapa sangka, sekarang batik menjadi populer dan biasa dipakai untuk pakaian resmi di kantor. Bahkan pejabat sekarang, saat menghadiri acara resmi justru identik dengan batik. 
Sekilas, tampaknya ide Pak Mendikbud itu aneh, tetapi saya yakin itu adalah bagian dari cara untuk mempopulerkan baju daerah. Suatu saat baju daerah pasti  bisa  popular dipakai oleh siapapun, dimanapun dan fit di segala suasana. Jika sudah seperti itu akan ada efek multipliernya. Nanti jika baju daerah dipakai di mana-mana, pelaku ekonomi usaha kecil menenga yang membuat baju daerah akan tumbuh. Baju-baju buatan mereka akan laku dibeli oleh masyarakat luas. Disamping itu identitas ke-Indonesiaan akan semakin dipertegas dengan hadirnya keberagaman baju-baju daerah dalam segala suasana. Ini bagian dari strategi kebudayaan, saya kira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar